أَرى الغِرَّ في الدُنيا إِذا كانَ فاضِلاً

محمد بن إدريس الشافعيArabic4 lines1 public analyses
Original Poetry
Translation
أَرى الغِرَّ في الدُنيا إِذا كانَ فاضِلاً
Saya melihat orang bodoh di dunia ini jika dia berbudi
تَرَقّى عَلى روسِ الرِجالِ وَيخطُبُ
Dia naik di atas kepala orang-orang dan berpidato
وَإِن كانَ مِثلي لا فَضيلَةَ عِندَهُ
Dan jika seperti saya yang tidak memiliki keutamaan
يُقاسُ بِطِفلٍ في الشَوارِعِ يَلعَبُ
Dia dibandingkan dengan anak kecil yang bermain di jalanan
 

Explanation

Puisi ini oleh Imam Shafi'i membahas tentang bagaimana masyarakat sering kali menilai orang berdasarkan penampilan atau status sosial mereka, bukan berdasarkan kebajikan sejati. Dalam baris pertama, penyair menggambarkan bagaimana seseorang yang bodoh tetapi memiliki penampilan atau status yang baik dapat dihormati dan diangkat di masyarakat. Frasa "تَرَقّى عَلى روسِ الرِجالِ" menunjukkan bagaimana orang seperti itu dapat mendominasi atau memimpin orang lain.

Sebaliknya, penyair menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang tidak memiliki keutamaan yang diakui oleh masyarakat. Frasa "يُقاسُ بِطِفلٍ في الشَوارِعِ يَلعَبُ" menggambarkan bagaimana orang yang sebenarnya berbudi tetapi tidak diakui, diperlakukan seperti anak kecil yang bermain di jalanan, tidak dianggap serius.

Arc emosional puisi ini bergerak dari pengamatan kritis terhadap masyarakat ke perasaan ketidakadilan dan penolakan terhadap standar sosial yang dangkal. Nada puisi ini adalah kritis dan reflektif.

Imam Shafi'i menggunakan kontras dan ironi untuk menyoroti ketidakadilan sosial. Metafora dan perbandingan digunakan untuk menggambarkan bagaimana orang yang tidak layak bisa mendapatkan posisi tinggi, sementara yang berbudi diabaikan.

Puisi ini menyoroti tema keadilan sosial dan kritik terhadap masyarakat yang lebih menghargai penampilan daripada kebajikan sejati. Ini mencerminkan pandangan Imam Shafi'i tentang pentingnya kebajikan dan moralitas dalam kehidupan manusia, sesuai dengan ajaran Islam yang dia anut dan ajarkan.

Word Dictionary21

WordIn ArabicIn MalayPron.
أَرىأشاهدSaya melihataraa
الغِرَّالجاهلorang bodohal-ghirr
فيداخلdifi
الدُنياالعالمduniaad-dunya
إِذاحينjikaidha
كانَكانadalahkaana
فاضِلاًجيدًاberbudifaadilan
تَرَقّىصعدnaiktaraqqa
عَلىفوقdi atasala
روسِرؤوسkepalaruus
الرِجالِالناسorang-orangar-rijaal
وَيخطُبُيتحدثberpidatowa-yakhtub
وَإِنوإذاdan jikawa-in
مِثليمثلsepertimithli
لاليسtidaklaa
فَضيلَةَميزةkeutamaanfadhiilata
عِندَهُلديهdiakuiindahu
يُقاسُيُقارَنُdibandingkanyuqaasu
بِطِفلٍبِصَبيٍّdengan anak kecilbi-tiflin
الشَوارِعِالطرقاتjalan-jalanash-shawaari'
يَلعَبُيلهوbermainyal'ab

Poet & Context

Era767-820 CE

الإمام الشافعي هو ثالث الأئمة الأربعة عند أهل السنة والجماعة، ومؤسس علم أصول الفقه. وُلد في غزة وتوفي في مصر، وكان له تأثير كبير في الفقه الإسلامي.


WhenBetween 767-820 CE
WhyThe poem reflects on the social dynamics and the perception of merit and virtue in society. It critiques how superficial qualities can elevate a person in society, while true virtue is often overlooked.
FormClassical Arabic poetry

Themes & More

Social critiqueVirtue vs. superficiality
Contrast: between the respected fool and the unrecognized virtuousIrony: highlighting societal valuesMetaphor: comparing the virtuous to a child playing
أَرى الغِرَّ في الدُنيا إِذا كانَ فاضِلاً by محمد بن إدريس الشافعي — Poem, Translation & Meaning