Loading
Jejak Kasar, Kasih Paling Lembut
Jejak Kasar, Kasih Paling Lembut
Ayah, kau tak pernah meminta dipahami, namun setiamu hadir di setiap langkah, di balik tangan kasar dan hati yang sepi, kau simpan cinta paling jujur dan tabah.
Tanganmu yang kasar adalah cara dunia memberitahuku, bahwa ada lelaki yang rela hancur agar aku tetap utuh
Di hamparan waktu yang tak terhingga, Cintamu adalah sungai yang tak pernah kering. Di setiap detikku, doamu mengiring, Menjaga dan melindungi, dengan kasih yang tak terbatas
kini aku paham, diammu bukan berarti tak ada, kau adalah akar yang terkubur dalam tanah, tak terlihat mata namun memastikan aku terus tumbuh menuju cahaya
dan jika suatu hari puisiku benar-benar berakhir, biarlah namamu menjadi baris terakhirnya, sebab dari diam dan pengorbananmu yang panjang, aku belajar: cinta paling dalam tak butuh suara.
The rough marks of love are the softest traces left behind.
Dad, you never asked to be understood, yet your loyalty walks with me at every step. Behind your rough hands and lonely heart, you hold the truest and most patient love.
Your rough hands show me that there are men willing to break themselves so I can stay whole.
In the endless expanse of time, your love is a river that never runs dry. In every moment, your prayers accompany me, protecting and nurturing me with boundless love.
Now I understand, your silence doesn't mean there's nothing, you are the root buried deep in the earth, invisible to the eye yet ensuring I continue to grow towards the light.
And if one day my poetry truly comes to an end, let your name be the final line, for from your silence and long sacrifices, I've learned: the deepest love needs no voice.