Loading
Di tengah tawa bertaut,Di tengah tawa bertaut
Di tengah tawa bertaut, aku mencari sepi.
Dalam lautan adu kenangan, aku berdiri di sudut, melirik hening yang berlari, beranjak dari ruang ini.
Kuseret langkah mengikuti jejaknya— melewati riuh gaun dan kemeja, alunan musik yang merasuki telinga tanpa permisi. Sesekali dentumnya membekukanku, kaku diapit keramaian.
Aku menembus serpihan gelas anggur yang pecah dilahap gembira, mencari sudut demi sudut: apakah ia sembunyi di balik riuh ruang tamu, atau tersudut di kamar tidur?
Kini, kakiku dipenuhi luka. Berdiri limbung di ambang pintu kamar mandi, tanganku meraih cepat gagangnya.
Seketika, sepi mengunci seluruh ruang.
Kuhirup dinginnya dalam-dalam, hingga tenang masuk, memenuhi dada.
Di tengah tawa yang saling terjalin, aku mencari kesendirian.
Dalam lautan kenangan yang bertarung, aku berdiri di sudut, melirik keheningan yang berlari, meninggalkan ruang ini.
Kuseret langkah mengikuti jejaknya— melewati gaun dan kemeja yang ramai, melodi musik yang merasuki telinga tanpa izin. Sesekali dentumnya membekukanku, kaku di tengah keramaian.
Aku menembus serpihan gelas anggur yang hancur dilahap kebahagiaan, mencari setiap sudut: apakah ia bersembunyi di balik keramaian ruang tamu, atau terperangkap di kamar tidur?
Kini, kakiku penuh luka. Berdiri goyah di ambang pintu kamar mandi, tanganku cepat meraih gagangnya.
Tiba-tiba, keheningan mengunci seluruh ruang.
Kuhirup dinginnya dalam-dalam, hingga ketenangan masuk, mengisi dada.