Original Poem
تَاللَهِ لَولا اللَهُ ما اِهتَدَينا وَلا تَصَدَّقنا وَلا صَلَّينا الكافِرونَ قَد بَغَوا عَلَينا إِذا أَرادوا فِتنَةً أَبَينا وَثَبِّتِ الأَقدامَ إِن لاقَينا وَأَنزِلَن سَكينَةً عَلَينا
Translation (Malay)
Demi Allah, jika bukan karena Allah, kami tidak akan mendapat petunjuk
Dan kami tidak akan bersedekah dan tidak akan shalat
Orang-orang kafir telah melampaui batas terhadap kami
Jika mereka ingin membuat fitnah, kami menolaknya
Dan teguhkanlah kaki kami jika kami bertemu musuh
Dan turunkanlah ketenangan kepada kami
About the Poet
Abdullah ibn Rawahah (Islamic era)
Abdullah ibn Rawahah adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang terkenal dengan syair-syairnya. Beliau turut serta dalam beberapa pertempuran penting dalam sejarah Islam dan dikenal sebagai salah satu penyair terkemuka pada zamannya.
Historical Context
- Literary Form
- Traditional Arabic poetry
- When Written
- Islamic era
- Background
- Puisi ini sering dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, termasuk peperangan dan perjuangan umat Islam pada masa awal.
Sources: https://www.aldiwan.net/poem77095.html, https://sunnah.com/bukhari:6620, https://en.wikipedia.org/wiki/Arabic_poetry
Detailed Explanation
Puisi ini oleh Abdullah ibn Rawahah menekankan ketergantungan umat Islam kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan mereka, termasuk dalam mendapatkan petunjuk dan melakukan amal ibadah.
Setiap baris puisi ini menggambarkan keyakinan yang mendalam bahwa tanpa bimbingan Allah, manusia tidak akan mampu melakukan kebaikan seperti bersedekah dan shalat. Frasa "تَاللَهِ لَولا اللَهُ ما اِهتَدَينا" menegaskan bahwa petunjuk dan hidayah adalah murni dari Allah.
Puisi ini juga menggambarkan situasi umat Islam yang menghadapi ancaman dari orang-orang kafir, yang "قَد بَغَوا عَلَينا" atau telah melampaui batas terhadap mereka. Namun, meskipun ada ancaman, umat Islam tetap teguh dan menolak fitnah, sebagaimana dinyatakan dalam "إِذا أَرادوا فِتنَةً أَبَينا".
Dari segi emosi, puisi ini mencerminkan keyakinan dan keteguhan hati umat Islam dalam menghadapi ancaman. Nada puisi ini adalah penuh dengan kepercayaan dan keteguhan.
Dari segi seni, penggunaan repetisi dalam "وَلا تَصَدَّقنا وَلا صَلَّينا" menekankan ketergantungan pada Allah. Selain itu, permohonan untuk ketenangan dan keteguhan dalam "وَثَبِّتِ الأَقدامَ" dan "وَأَنزِلَن سَكينَةً" menunjukkan harapan akan dukungan ilahi.
Puisi ini menegaskan pentingnya iman dan ketergantungan pada Allah dalam menghadapi tantangan, dan mencerminkan semangat perjuangan umat Islam pada masa awal Islam.
Themes
Literary Devices
Word Dictionary
| Word | Meaning | Translation | Transliteration |
|---|---|---|---|
| تَاللَهِ | بِاللَهِ | Demi Allah | ta-allahi |
| لَولا | إِذا لَم يَكُن | Jika bukan | lawla |
| اللَهُ | الرَبّ | Allah | allaahu |
| ما | لَم | Tidak | maa |
| اِهتَدَينا | وَجَدنا الهِداية | Mendapat petunjuk | ihtadayna |
| وَلا | لَم | Dan tidak | wala |
| تَصَدَّقنا | أَعطَينا الصَدَقة | Bersedekah | tasaddaqna |
| صَلَّينا | أَدَّينا الصَلاة | Shalat | sallayna |
| الكافِرونَ | الذين لا يُؤمِنون | Orang-orang kafir | al-kaafiroon |
| قَد | لَقَد | Telah | qad |
| بَغَوا | تَجَاوَزوا الحَدّ | Melampaui batas | baghaw |
| عَلَينا | فَوقَنا | Kepada kami | alayna |
| إِذا | عِندَما | Jika | idha |
| أَرادوا | رَغِبوا | Ingin | araadoo |
| فِتنَةً | إِختِبارًا | Fitnah | fitnatan |
| أَبَينا | رَفَضنا | Kami menolak | abayna |
| وَثَبِّتِ | قَوِّ | Teguhkanlah | wathabbit |
| الأَقدامَ | الأَرجُل | Kaki | al-aqdam |
| إِن | إِذا | Jika | in |
| لاقَينا | واجَهنا | Kami bertemu | laqayna |
| وَأَنزِلَن | أَرسِلَن | Dan turunkanlah | wa-anzilanna |
| سَكينَةً | هُدوءًا | Ketenangan | sakinatan |
Want to analyze your own poem?
Paste any poem in 180+ languages and get an instant AI-powered analysis with translation, explanation, poet biography, and literary devices.
Try Poetry Explainer — Free